Sabtu, 08 Desember 2012

Meishi Bun


Meishi-bun adalah kalimat yang berpredikat kata benda dan diikuti dengan kopula da. Tetapi, agar kalimat tersebut menjadi kalimat halus/sopan, maka da harus diubah menjadi desu, dan bentuk negatifnya menjadi dewa/jya arimasen. Kemudian masih ada pula perubahan bentuk yang lainnya seperti bentuk lampau.

1.      Kalimat positif

A B です
A wa B desu

Ini merupakan pola kalimat positif yang predikatnya menggunakan kata benda ditambah da/desu. Pada pola kalimat diatas baik subjek maupun predikatnya harus berupa kata benda. Misalnya jika A dan B adalah kata benda, lalu kita masukan ke dalam pola kalimat diatas, maka akan menjadi “A wa B desu” (A adalah B). pada pola kalimat diatas terdapat kata bantu wa yang untuk sementara bisa kita terjemahkan dengan adalah. Contoh:

山下です
Watashi wa yamashita desu (saya (adalah) yamashita)

学生です
Watashi wa gakusei desu (saya (adalah) mahasiswa)

インドネシア人です
Watashi wa indoneshia-jin desu (saya (adalah) orang Indonesia)

2.      Kalimat negatif 

A B じゃ/でわありません
A wa B jya/dewa arimasen

Kalimat negatif dari pola diatas dibentuk dengan cara mengubah desu menjadi jya/dewa arimasen. Jadi pola kalimat ini untuk sementara bisa diterjemahkan menjadi “…adalah bukan…”. Contoh:

日本人じゃありません
Watashi wa nihon-jin jya arimasen (saya bukan orang jepang)

先生でわありません
Watashi wa sensei dewa arimasen (saya bukan guru)

3.      Kalimat Tanya :

A Bですか
A wa B desu ka

Jika kita ingin membuat kalimat tanya dari pola kalimat diatas, bisa dilakukan nya membubuhkan kata bantu ka pada akhir kalimat tersebut. Dalam bahasa jepang fungsi utama dari kata bantu ka digunakan untuk menunjukan kalimat tanya. Contoh:

A:  あなた学生ですか
     Anata wa gakusei desu ka (apakah kamu mahasiswa?)
    
B:  はい、私学生です
     Hai, watashi wa gakusei desu (positif) (ya, saya mahasiswa)

     いいえ、私先生じゃありません
     Iie, watashi wa sensei  jya arimasen (negatif) (tidak, saya bukan mahasiswa)


Sedangkan jika akan menggunaan kata tanya, maka kata tanya tersebut harus diletakan pada posisi predikat kalimat tersebut. Sehingga jawaban hai dan iie seperti diatas tidak digunakan lagi. Melainkan langsung dijawab dengan menyebutkan benda yang dimaksud pada posisi  kata tanya tersebut. Contoh:

A:  これですか
     kore wa nan desu ka (ini apa?)
    
B:  それです
     sore wa hon desu (itu buku)

A:  あの人どなたですか
     Ano hito wa donata desu ka (siapa orang itu ?)

B:  あの人アリさんです
     Ano hito wa ari-san desu (orang itu adalah Pak Ari)

4.      Penggunaan kata bantu () mo

A Bです
A mo B desu

Kata bantu wa pada beberapa pola kalimat diatas bisa diganti dengan kata bantu mo. Kata bantu mo bisa diartikan “juga/pun” yang salah satu fungsinya bisa menggantikan kata bantu wa ketika memaparkan beberapa kalimat yang predikatnya sama/sejenis. Contoh:

学生です。アリさん学生です
Watashi wa gakusei desu. Ari-san mo gakusei desu (saya mahasiswa. Ari juga mahasiswa)

A  : これです
      Kore wa nan desu ka (ini apa?)

B   : それです
      Sore wa hon desu (itu buku)

A  : これです
      Kore mo hon desu ka (apa ini buku juga?)

B   : はい、それです
      Hai, sore mo hon desu (ya, itu juga buku)

5.      Penggunaan kata bantu () de

S1 wa K.Benda1 de, S2 wa K.Benda2 desu

2 kalimat yang berpredikat kata benda + desu atau lebih, bisa digabung menjadi satu kalimat majemuk dengan cara mengubah desu menjadi de sebagai penghubung.

私は学生、ニダさんは先生です
Watashi wa gakusei de, nida-san wa sensei desu (saya adalah mahasiswa dan nida adalah guru)

6.      Penggunaan kata bantu () no

A B = BA / A B C = CBA
A no B = BA / A no B no C = CBA

Kata bantu no bisa digunakan untuk menggabungkan 2 buah kata benda atau lebih menjadi satu kata benda. Tetapi urutannya terbalik jika kita bandingkan dengan urutan dalam bahsa Indonesia. Seperti kita ketahui dalam bahsa Indonesia digunakan hokum DM (diterangkan-menerangkan), sedangkan dalam bahasa jepang bisaa digunakan hokum MD (menerangkan-diterangkan). Pola kalimat diatas, jika A, B, dan C masing-masing kata benda dan digabungkan dengan katabantu no ini bisa juga digunakan untuk menyatakan kepunyaan.Misalnya :

日本語先生     nihongo no sensei          guru bahasa jepang
                 watashi no hon  buku (punya) saya

Contoh kalimat:

山田先生日本語先生です
Yamada sensei wa nihongo no sensei desu (Pak yamada adalah guru bahasa jepang)

これ本です
Kore wa watashi no hon desu (ini buku saya)             

7.      Kalimat lampau

Dari beberapa pola kalimat diatas, jika diubah ke dalam kalimat lampau menjadi berikut:

Kalimat bentuk sekarang
Kalimat bentuk lampau
です
…wa…desu
でした
…wa…deshita
じゃありません
…wa…jya arimasen
じゃありませんでした
…wa…jya arimasen deshita

Kalimat bentuk lampau digunakan untuk menyatakan sesuatu hal yang telah berlalu. Caranya untuk kalimat positif, kopula desu diubah menjadi deshita, sedangkan kalimat negatif jya arimasen ditambah dengan kata deshita sehingga menjadi jya arimasen deshita. Berikut contoh kalimat:

今日月曜日です。きのう火曜日でした
Kyoo wa getsuyoobi desu. Kinoo wa nichiyoobi deshita (hari ini senin. Kemarin minggu)

今日です。きのうも雨でした
Kyoo wa ame desu. Kinoo mo ame deshita (hari ini hujan. Kemarin juga hujan)

おととい休みじゃありませんでした
Ototoi wa yasumi jya arimasen deshita (kemarin dulu (2 hari yang lalu) tidak libur)

8.      Kalimat yang menyatakan dugaan

Pola kalimat lain yang menggunakan “kata benda + da” yaitu kalimat yang digunakan untuk menyatakan dugaan atau kemungkinan yang akan terjadi. Dalam hal ini kopula da diubah menjadi deshoo, dengan pola kalimat sebagai berikut:

S/Ket K.Bendaでしょう
S/Ket wa K.Benda deshou

Pada pola kalimat tersebut bisaanya dilengkapi dengan kata tabun (mungkin), lalu diikuti oleh predikat deshoo. Akan tetapi meskipun dalam suatu kalimat tidak disertai dengan kata tabun pun jika pola kalimatnya menggunakan predikat deshoo, maka kalimat tersebut sudah menunjukan suatu kemungkinan. Contoh:

あの人は日本語の先生でしょう
Anohito wa nihongo no sensei deshou (orang itu mungkin guru bahasa jepang)

あしたはたぶん雨でしょう
Ashita wa tabun ame deshou (besok mungkin hujan)

9.      Penggunaan kata: …,…さん,…,…先生/…jin,…san,…go,…sensei

Kata “jin” jika diletakan dibelakang kata yang menunjukan nama suku bangsa, ini bisa diartikan menjadi “bangsa/orang…”. Sedangkan kata “san” selalu diletakan dibelakang nama orang (dewasa, baik laki-laki maupun perempuan) selain diri sendiri, artinya “tuan/nyonya/bapak/ibu/saudara/saudari…” dengan tidak membedakan jenis kelamin atau jabatan. Sedangkan kata ”go” diletakan dibelakang nama suatu bahasa artinya “bahasa…”. Dan untuk “sensei” diletakan di belakang nama seseorang yang berprofesi sebagai guru, pelatih, atau dokter, digunakan sebagai kata panggilan yang berprofesi tersebut. Contoh:

インドネシア   Indoneshia jin                              orang indonesia
アリさん               Ari san                                        pak Ari
日本                   Nihongo                                      bahasa jepang
山田先生               Yamada sensei                            dokter yamada